Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Dr. Nandang Rukanda, M.Pd.

Artikel Umum

Konsepsi Aliran-aliran Filsafat

Dipublikasikan pada : 20 September 2017. Kategori : .
  1. Filsafat liberalisme

Pendidikan liberal adalah, pendidikan rasional atau intelektual. Pendidikan intelektual mencoba untuk mengarahkan orang-orang memperoleh informasi untuk pengetahuan dan kebijaksanaan. Kalangan terdidik harus memiliki informasi dan mengetahui dasar-dasar membaca, menulis, dan komputasi. mereka memiliki informasi dasar tentang dunia di mana mereka hidup

Friedenberg berpendapat bahwa pendidikan liberal untuk orang dewasa berkontribusi untuk tujuan lain seperti peningkatan kualitas kewarganegaraan dan penggunaan waktu luang, peningkatan konsep diri, dan perasaan martabat manusia yang lebih besar. Friedenberg melihat fungsi penting dari pendidikan orang dewasa liberal untuk memberdayakan orang-orang “untuk menghargai martabat dan tidak memberi izin untuk pelanggaran itu”. nilai-nilai atau kebajikan seperti keramahan, kerjasama, keadilan, kepraktisan, dan kerendahan hati harus dipupuk dalam kelompok orang dewasa

  1. Filsafat Pendidikan Behaviorisme

Menurut Skinner (1974) pakar behaviorisme, mempertahankan hidup adalah nilai dasar individu dan masyarakat. Sistem pendidikan dapat memastikan  keberlangsungan hidup individu dan masyarakat dengan secara seksama menyusun kemungkinan reinforcement untuk memenuhi hal ini. Pada tataran individual, pendidikan Behavioristik menekankan pada pemerolehan keterampilan kerja sehingga orang tersebut dapat bertahan hidup dalam masyarakat. Inilah yang menurut hemat penulis sangat mendukung pendidikan keterampilan hidup. Behaviorisme ini merupakan akar dari lahirnya pendidikan berbasis kompetensi yang berkembang menjadi pendidikan kecakapan hidup (life skills). Demikian penjelasan Penulis mengenai filsafat pendidikan yang mendukung pendidikan kecakapan hidup.

  1. Filsafat humanistik

Pemberdayaan kelompok miskin yang dilandasi filsafat humanistik adalah dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar filsafat humanistik ke dalam praktik pemberdayaan masyarakat miskin. Secara konkrit, penerapan filsafat humanistik tersebut adalah dengan cara merubah persepsi masyarakat mengenai kemampuan diri dan ketidakberdayaannya sendiri. Hal ini bisa dilakukan dengan cara meningkatkan potensi dan kemampuan manusia berkenaan dengan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk berekstensi diri dan pada gilirannya dapat berpartisipasi serta memperbaiki kedudukannya dalam masyarakat. Faktor yang menentukan dalam proses pemberdayaan adalah pada tahap pengembangan kesadaran diri dan potensi diri yang dimiliki, sehingga dapat siap untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan. Langkah selanjutnya adalah menumbukan rasa percaya diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Apabila rasa kesadaran telah dimiliki maka langkah selanjutnya adalah menumbuhkan keyakinan dalam diri untuk melakukan tindakan, belajar dan melatih keterampilan yang dibutuhkannya untuk kehidupannya.

Pada proses pemberdayan aspek penguatan dan keyakinan diri dari individu merupakan faktor utama. Pemberdayaan akan berkaitan dengan perasaan indvidu, harga diri dan keyakinan diri dan tidak dapat dipisahkan dari segenap aspek kehidupan manusia secara sosial, psikologis, ekonomi maupun politik. Pemberdayaan merupakan proses yang diarahkan bagi penguatan kemampuan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kedudukannya dalam masyarakat. Oleh karena itu,   pemberdayaan akan menyangkut pula nilai-nilai budaya seperti kerja keras, hidup hemat, keterbukaan dan bertanggung jawab.

Jadi, upaya pemberdayaan masyarakat yang dilandasi filsafat humanistik adalah upaya membangun daya dengan mendorong memotivasikan dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki masyarakat serta berupaya untuk mengembangkannya dan untuk melepaskan diri dari siklum setan kemiskinan-kebodohan-dan kesakitan.

  1. Filsafat progresivistik

filsafat yang mendukung pendidikan kecakapan hidup adalah Progesivistis karena beberapa alasan sebagai berikut:

  • Secara historis, progresivisme telah berdampak besar pada gerakan pendidikan orang dewasa di Amerika Serikat, yang mempengaruhi gerakan pendidikan secara dominan, yang menginspirasi membangun program secara teoritis dan praktis dalam gerakan masyarakat urban dan industri, yang dinamis. Sementara pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan untuk menjawab secara praktis upaya untuk mendukung kegiatan pembangunan itu sendiri.
  • Di dalam iklim yang demokratis pendidikan akan berkembang, dimana banyak yang melihat di era progresif dan filsafat pendidikan, teori ini cocok untuk memahami peran pendidikan dalam perubahan sosial.Dalam hal pendidikan kecakapan hidup memberi ruang dimana ia dapat menempatkan pendidikan tersebut dalam upaya member peran individu dalam menyiapkan diri ikut serta dalam kehidupan masyarakat.
  • Pendidikan Progresif dalam pelatihan kejuruan, belajar dari pengalaman, penyelidikan ilmiah, keterlibatan masyarakat, dan tanggap terhadap masalah sosial,menunjukkan pengembangan baru pendidikan umum dan dewasa.
  • Dalam memperluas pandangan pendidikan untuk menyertakan pengalaman pribadi dan interaksi para siswa, progresif memberikan pendidikan fokus baru – peserta didik dengan kebutuhan pribadi mereka, minat, pengalaman, dan keinginannya.
  • Pendidikan tidak terbatas pada yang dilakukan di sekolah, tetapi mencakup semua kegiatan di masyarakat yang secara insidentil dan diprogramkan untuk mentransformasikan nilai-nilai, sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  • Pendidikan sebagai proses sosialisasi, progresif merupakan langkah logis yang penting pada pembelajaran orang dewasa.
  • banyak pendidikan reformasi periode ini, ruang kelas terbuka, minat baru dalam pendidikan moral, student-centered learning, penggunaan cerdas lingkungan dalam pendidikan, sekolah tanpa dinding, pengenalan metode kreatif ke dalam pendidikan, penekanan pada peran pendidikan dalam sosial berubah, reintroduksi dari kurikulum masalah atau situasimerupakan cirri progresivistis.
  • Kurikulum pendidikan yang dikehendaki oleh filsafat progrsivisme ialah kurikulum yang bersifat fleksibilitas (tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh doktrin tertentu), luas dan terbuka.
  • Kurikulum dalam pendidikan kecakapan hidup haruslah menjadi kurikulum yang dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidunya selalu berinteraksi di dalam lingkungan yang komplek. Kurikulum eksperimental yaitu kurikulum yang berpusat pada pengalaman, dimana apa yang telah dipelajari anak didik selama di sekolah akan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
  • Dengan metode pendidikan belajar sambil berbuat (learning by doing) dan pemecahan masalah (problem solving) dengan langkah-langkah menghadapi problem, mengujikan hipotesa.
  • Melalui proses pendidikan dengan menggunakan kurikulum yang bersifat integrated kurikulum (masalah-masalah dalam masyarakat disusun terintegrasi) dengan metode pendidikan belajar sambil berbuat (learning by doing) dan metode problem solving (pemecahan masalah) diharapkan anak didik menjadi maju (progress) mempunyai kecakapan praktis dan dapat memecahkan problem sosial sehari-hari dengan baik. Sehingga cocok dengan bagaimana pendidikan kecakapan hidup itu dilakukan.
  1. Filsafat radikal

Paulo Freire adalah seorang kritikus radikal terhadap pendidikan tradisional. Yang dalam perkembangan berikutnya sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan signifikansi pendidikan nonformal. Bagi Freire, pendidikan tradisional sama dengan banking education dimana siswa menerima, mengarsipkan, dan menyimpan informasi. Bagi Freire, pengetahuan dalam pendidikan tradisional adalah hadiah yang dipersembahkan bagi siswa oleh guru. Tipe pendidikan ini menurutnya bertentangan dengan kebebasan dan otonomi siswa. Singkatnya, menurut Freire, pendidikan tradisional adalah salah satu bentuk kekerasan yang melahirkan ketidakterlibatan siswa dalam pencarian akan pengetahuan yang benar dan sejati. Pendidikan tradisional hanya melahirkan ketidakberdayaan dan bersinambungnya oppression.

Untuk bebas dari oppression atau tekanan atau ketidakberdayaan ini, harus ada perubahan radikal dalam pendidikan. Freire menggagas sebuah metode pedagogi bagi mereka yang memang tidak berdaya, iliterat, dan pihak yang sedang dilemahkan. Metode tersebut disebut “pedagogy of the oppressed.”

Metode ini sangat berkaitan dengan upaya pemberdayaan masyarakat. Dimana masyarakat diharapkan bisa bangkit dari ketidakberdayaannya dengan cara meningkatkan kesadaran mereka akan situasi yang sedang terjadi dan bagaimana mereka dapat menginisiasi sebuah gerakan masyarakat secara politis dan sosial untuk keluar dari tekanan ketidakberdayaan (oppression) menuju kebebasan (liberation).

Freire menawarkan pendidikan yang membebaskan, dialogis, dan pembahasan masalah yang riil dalam rangka memberdayakan masyarakat. Secara implementatif, masyarakat bisa diajak untuk melakukan kegiatan kultural untuk kebebasan. Kegiatan kultural untuk kebebasan adalah ekspresi yang digunakan oleh Freire untuk menjelaskan tentang proses pendidikan.

Kegiatan ini adalah sebuah kegiatan dimana sekelompok orang, melalui dialog, menyadari situasi konkrit yang mereka hadapi, alasan atas timbulnya situasi tersebut, dan solusi-solusi untuk keluar dari situasi tersebut. Agar kegiatan tersebut bisa menjadi otentik, para partisipan harus bisa bebas untuk membuat kurikulum bersama-sama dengan guru.

Dalam setting pemberdayaan masyarakat, kegiatan kultural untuk kebebasan tersebut sangat mirip dengan implementasi pusat kegiatan belajar masyarakat di Indonesia dewasa ini. Masyarakat berkumpul untuk berdialog dan berbagi persepsi mengenai situasi konkrit yang mereka hadapi, menyadarinya, memahami alasan-alasannya dan kemudian memilih solusi-solusi yang perlu dilakukan dan kebutuhan-kebutuhan belajar yang diperlukan untuk bisa terus meningkatkan level pemberdayaan dirinya dan dengan demikian meningkatkan level pemberdayaan masyarakat pula. Bukankah masyarakat itu terdiri dari individu-individu juga?

Jadi bisa disimpulkan bahwa implementasi pandangan radikal Paulo Freire yang menawarkan pendidikan yang berbasis pada pembahasan masalah konkrit melalui dialog yang penuh dengan rasa penghargaan akan kebebasan individu dalam konteks pemberdayaan masyarakat dicerminkan dengan penyelenggaraan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang telah dijelaskan di atas. Demikian penjelasan dari penulis, hanya Alloh Yang Maha Sempurna pengetahuannya.

  1. Filsafat analitik

Filsafat analitik memsutakan kajiannya dalam istilah dan arti. Filsafat ini mengkaji pengertian tentang istilah “sebab”, “pikiran”, “kebebasan akademik”, “kesamaan memperoleh peluang” dsb. Kajiannya dilakukan dalam konteks yang berbeda-beda sehingga memungkinkan terjadi perbedaan makna terhadap suatu istilah apabila konteksnya itu berbeda. Filsafat analitik cenderung skeptik dan cenderung kehati-hatian dalam menyusun suatu kerangka berpikir tertentu.

Ada dua kategori yang perlu diperhatikan dalam menganalisis pokok-pokok utama filsafat pendidikan yang dipandang melandasi eksistensi dan pentingnya pendidikan nonformal sesuai dengan sifat tersebut di atas; pertama filsafat sebagai suatu metoda dan filsafat sebagai suatu pandangan. Sebagai suatu metoda filsafat dapat ditelusuri dari cara berfikir dan cara menganalisis Pendidikan nonformal yang dapat dipertanggung-jawabkan. Sedangkan filsafat sebagai suatu pandangan memberikan suatu nilai serta pemikiran mengenai persepsi, landasan dan pedoman tingkah laku seseorang (individidu) atau masyarakat dalam seluruh kehidupan dan citacitanya. Sebagai suatu metoda filsafat penting dalam menganalisis Pendidikan Nonformal:

1) Pendidikan nonformal dalam konteks pengembangan programnya seringkali berhubungan dengan pemecahan masalah yang dialami manusia, terutama masalah yang berkaitan dengan pengembangan kemampuan, keterampilan dan keahlian khusus yang tidak dapat ditemukan dalam konteks pendidikan persekolahan.

2)    Dalam penyelenggaraan program pendidikan nonformal memiliki karakteristik sasaran didik tersendiri, yang secara filosofis karakteristik tersebut memiliki kesamaan dan perbedaan dengan sasaran didik pendidikan formal.

3)    Mengembangkan satu bentuk program pendidikan nonformal diperlukan adanya idealisme bagi tercapainya keberhasilan program tersebut.

4)    Dalam pengembangan program pendidikan nonformal penelusuran minat, bakat dan kebutuhan adalah merupakan daya dukung tersendiri bagi pencapaian tujuan program secara utuh dan dapat diterapkan dalam kehidupannya (learning to be)

Kekuatan filosofis yang mendasari pendidikan nonformal tergantung pada kemampuannya membuat warga belajar (individu, masyarakat) dapat memahami dan mengekpresikan aktivitasnya sehari-sehari dengan cara-cara yang lebih baik. Pengujian filosofis pendidikan nonformal perlu didasarkan pada faktor-faktor berikut :

1)    Hakekat kehidupan yang baik menjadi tujuan pendidikan nonformal. Kehidupan yang baik itu menyangkut norma dan nilai-nilai kehidupan yang ideal yang harus dapat dicapai oleh manusia melalui pendidikan, khususnya pendidikan nonformal.

2)    Hakekat masyarakat itu sendiri sehubungan dengan pendidikan nonformal sebagai proses yang terjadi di tengah-tengah masyarakat luas di luar persekolahan. Masyarakat senantiasa berubah sesuai dengan ruang dan waktu.

3)    Hakekat manusia yang menjadi warga belajar pendidikan nonformal. Warga belajar sebagai mahluk individual, religius, sosial dan unik memiliki kesamaan dan perbedaan. Persamaannya ialah individu memiliki potensi untuk berkembang, dan perkembangan itu akan mantap apabila melalui pendidikan, keterbatasan jangkauan pendidikan formal memberikan tendensi bagi berlakunya pendidikan nonformal untuk berkiprah di dalamnya secara lebih luas.

4)         Hakekat kebenaran yang menjadi kajian berbagai ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya pendidikan nonformal. Kebenaran itu berkaitan dengan kebenaran yang disepakati (agreement reality) dan kebenaran yang dialami (experiential reality).

Dalam rangka pemahaman sejarah pendidikan nonformal di masyarakat Indonesia, pesantren merupakan cikal bakal terbentuknya pendidikan nonformal karena model pendidikan endegenous ini sudah mulai terorganisir dan terkelola secara baik. Bentuk lain yang serupa diantaranya adalah: Madrasah Diniyah, atau pengajianpengajian di Surau, atau pertemuan-pertemuan lain yang secara rutin dilakukan di tengah-tengah masyarakat untuk merencanakan berbagai aktivitas masyarakat, atau media da’wah yang dilakukan dalam kegiatan keagamaan lainnya.